MENTARAM KAYA AKAN TRADISI DAN BUDAYA

Dipostkan pada : 2016-08-31    Oleh : Salman    Viewer : 313

Mataram merupakan Kota dengan beragam warna dan cerita. Tidak hanya denyut perekonomian yang menjadikan Mataram menjadi episentrum bagi khalayak luar, namun juga keragaman budaya, adat istiadat, seni dan tradisi yang membaur yang mampu menghipnotis mereka yang baru mengenal Mataram.

Menjadi Ibukota Provinsi, Mataram menjadi Kota multi etnis. Mulai dari suku Arab, Cina, Bugis yang mendiami wilayah barat Mataram. Ummat Hindu yang mendiami sebahagian wilayah Mataram dan Cakranegara dan tentunya 3 (tiga) suku besar di Nusa Tenggara Barat yakni Sasak, Samawa, dan Mbojo yang tersebar di 6 Kecamatan, 50 Kelurahan 321 Lingkungan se Kota Mataram dan tentunya beragam suku seantero Nusantara juga membaur dengan masyarakat pribumi.

Keragaman ini terus terawat hingga kini. Masyakat saling mendukung satu sama lain, sehingga tidak berlebihan bila banyak orang menyebut Mataram sebagai etalase Indonesia. Semboyan negara ”Bhinneka Tunggal Ika’ sungguh terimplementasi di Kota Mataram.

Sebagai sebagai kekuatan baru dalam industri tanah air, sektor pariwisata merupakan komoditas andalan non migas yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di masa mendatang. Keberagaman yang terawat menjadi modal besar Mataram dalam turut serta memajukan pembangunan daerah.

Seni, adat istiadat, budaya dan tradisi yang menjadi karakter masyarakat menjadi daya pihak wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Sebut saja Tradisi Merariq (menikah) dalam masyarakat adat Sasak merupakan bagian dari budaya dalam balutan Agama, dimana terdapat prosesi Sorong Serah Aji Krama yang merupakan upaya ”Silaturrahim” antar calon keluarga baru untuk saling membuka diri dalam mempersatukan diri dalam bingkai pernikahan. Demikian pula prosesi ”Nyongkolan” yang sangat diminiati oleh wisatawan mancanegara. Tradisi Nyongkolan yang merupakan prosesi mengantar mempelai wanita ke rumah orang tuanya sekaligus memperkenalkan mempelai Pria kepada sahabat, tetangga dan keluarga besar mempelai wanita.

Tradisi lain yang cukup unik dan tidak dilakukan di daerah lain yakni tradisi ”Lebaran Topat” yang merupakan Lebarannya mereka yang menjalankan puasa sunat di bulan Syawwal. Masyarakat sasak yang menjalankan ibadah tersebut sejak turun temurun menggelar acara Ziarah Makam para penyebar agama Islam di Pulau Lombok. Di Mataram terdapat 2 Makam yang menjadi tempat peziarahan yakni Makam Loang Baloq dan Makam Bintaro. Dalam setiap even Lebaran Topat, para peziarah tidak hanya datang dari Mataram, namun juga dari luar Mataram. Dalam kegiatan tersebut beraneka tradisi juga dilakukan seperti ’Ngurisan” atau memotong rambut bayi untuk pertama kalinya.

Hal lain yang juga menjadi keunikan Mataram yakni perayaan ”Maulid Nabi Muhammad SAW” yang menjadi tradisi perayaan yang juga telah berlangsung lama. Dalam kegiatan ini di isi oleh berbagai kegiatan keagamaan seperti Tausyiah dan diakhiri dengan santap Dulang Penyaji sebagai bentuk kesyukuran dan Penghormatan atas bulan Kelahiran Nabi. Tidak jarang masyarakat juga merangkai kegiatan Maulid dengan menggelar ”Sunatan” bagi anak laki.

Tradisi lain yang tidak kalah unik yakni ”Bekayat” yakni pembacaan Lontar dari Sejarah perjalanan Nabi dalam Peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Disini masyarakat dapat mengenal dan mengingat peristiwa tersebut sebagai momentum di ”ijazahkannya” Ibadah Sholat bagi ummat Muhammad.

Selain kita mengenal tradisi yang berkembang dan terus dilestarikan ditengah masyarakat, terdapat pula kesenian baik seni pertunjukkan maupun atraksi budaya yang menjadi kekayaan asli bangsa Sasak seperti Tarian Dende Seleh yang menggambarkan sosok perempuan dengan keshalehahannya memikat para raja untuk mempersuntingnya, namun tanpa ingin mengecewakan banyak lelaki, sang wanita tersebut menghilangkan diri sebagai bentuk keadilan yang ingin ia tunjukkan.

Ada lagi seni wayang kulit yang kini tengah dilestarikan dengan berdirinya sekolah Pedalangan. Kesenian ini hampir saja punah karena minimnya generasi muda yang berminat untuk melestarikannya dengan berkecimpung di dunia pedalangan.

Kesenian Presean, meski terbilang atraksi yang mengandung unsur kekerasan, namun lebih dari itu kesenian ini menunjukkan sprotivitas yang demikian terjaga. Ajang ini dapat dikatakan sebagai pentas audisi menjadi ”Pepadu” sejati yang jika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari yakni mengajarkan para lelaki untuk bermental pemberani dan kesatria yang ditunjukkan dengan sikap mental pantang menyerah meski beragam rintangan hingga luka yang mendera.

Atraksi yang terbilang sangat digemari yakni Gendang Beleq, Bale Ganjur, Colokaq yang kesemuanya itu merupakan alat musik tradisional yang kerap menghibur masyarakat dalam setiap even seni dan budaya hingga dalam penyambutan resmi Tamu Kenegaraan maupun tamu Kehormatan yang datang ke Kota Mataram.

Adapun seni tradisi lainnya yang juga bernafaskan ajaran agama seperti Pawai Ogoh-ogoh, Barongsai pun menjadi pertunjukkan yang tidak kalah untuk dinikmati sebagai bagian dari potensi memajukan industri pariwisata di Kota Mataram. (dh)