Khawatir Bahasa Sasak Terancam Punah

Dipostkan pada : 2016-08-08    Oleh : Salman    Viewer : 412

MATARAM – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mataram, Abdul Latif Najib khawatir Bahasa Sasak bakal mengikuti 139 bahasa daerah yang terancam punah.  Karena itu perlu ada penguatan mempertahankan bahasa asli masyarakat Lombok ini.

Ia melihat ancaman paling serius untuk eksistensi bahasa Sasak, justru di Kota Mataram, sebagai kawasan Metropolitan. “Penyebabnya, tingginya angka urbanisasi, pernikahan antar suku, hingga gengsi dan pendidikan,” kata Latif.

Sebelumnya santer diberitakan secara nasional tak kurang 139 bahasa terancam punah. Bahkan 12 bahasa diantaranya dari Provinsi NTB. Yakni beberapa bahasa di Kabupaten Bima dan 11 Bahasa di Kabupaten Sumbawa.

“Bahasa Sasak memang secara umum masih digunakan. Tapi khusus di kota bisa lihat sendiri, kadang Bahasa Sasak tidak digunakan dalam pergaulan di keluarga maupun lingkungan,” ujarnya.

Karena itu, semua pihak yang berkepentingan menyelamatkan budaya dan bahasa, lanjut Latif harus bergerak kolektif. Bahasa daerah tidak boleh punah.

“Ingat kota Mataram punya garapan budaya. Salah satunya berbahasa. Kita harus selamatkan identitas daerah ini,” tegasnya.

Para wisatawan datang ke Kota Mataram, dinilai tertarik mendalami khazanah kekayaan budaya setempat. Tidak untuk melihat dan mendengar apa yang sudah ada di daerah mereka. Bahasa sasak adalah salah satu identitas yang paling melekat.

Karena itu, lanjut Latif, para pendatang yang berdiam diri di Lombok mau tak mau harus mempelajari kebudayaan setempat. Lalu, dijadikan identitas diri mereka.

“Dimana bumi di pijak, disitu langit di junjung. Jangan hanya karena alasan beda suku, lalu hanya memilih mengajarkan anak Bahasa Indonesia. Saya rasa tidak begitu,” ulasnya.

Ancamanan terhadap Bahasa Sasak lanjut Latif, sudah pada tahap serius. Realitanya bisa dilihat langsung. Tren yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, juga lebih banyak mengadopsi budaya luar sebagai identitas diri.

“Ada acara Korean Day, Japan Day, Chinese Day, semua itu budaya dari luar. Tapi Sasak Day mana? Saya ndak pernah dengar,” cetusnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mengatakan, upaya melestarikan identitas diri memang sudah menjadi keharusan. Karena itu, penguatan materi muatan lokal yang biasanya diajarkan di sekolah, dinilai cukup relevan saat ini menghadang gerusan globaliasi.

“Toh itu sudah jadi perhatian nasional,” tandas Mohan.

Saat ini ia masih optimis Kota Mataram masih sangat menghargai Bahasa Sasak. Tapi tentu, harus ada program-program penguatan meski tak harus spesifik, untuk memelihara dan melestarikannya.  Faktanya juga ia masih melihat masyarakat khususnya di wilayah perkampungan, masih tetap menggunakan Bahasa Sasak.

“Memang ada percampuran budaya dan arus urban yang cukup tinggi, tapi di kampung-kampung masih banyak yang berbahasa Sasak,” ulasnya.


Sumber : http://www.lombokpost.net/
                  06/08/2016