TRADISI BEKAYAT

Dipostkan pada : 2016-06-09    Oleh : Salman    Viewer : 357

TRADISI BEKAYAT

TRADISI BUDAYA BERNAFASKAN RELIGI

 

Tradisi Bekayat (hikayat) merupakan suatu tradisi Islam suku Sasak yang telah ada sejak jaman kerajaan Hindu-Budha yang hingga kini masih tetap lestari.

Kegiatan bekayat merupakan tradisi membaca kitab-kitab kuno berbahasa melayu diatas daun lontar atau kertas yang biasa dibaca pada kegiatan-kegiatan tertentu.

Masyarakat adat suku Sasak dikenal dengan budaya tuturnya. Penyebaran agama Islam dimasa lampau juga melalui medium budaya tutur sehingga mempercepat proses penyebaran agama Islam di tanah lombok.

Bekayat merupakan salah satu medium dalam mengajak masyarakat untuk mengenal dan memahami agama Islam dengan paripurna.

Tradisi ini biasa dilakukan pada saat kegiatan keagamaan seperti memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awwal, peristiwa Isra’ Mi’raj pada malam 27 Rajab dan malam Nuzulul Qur’an pada 17 Ramadhan.

Beberapa kitab yang biasanya dibaca adalah Hikayat Nur, Yatim Mustafa danBadaruzzaman untuk acara ngurisan (potong rambut bayi), Maulidan sunatan dan perkawinan. Kitab Kifayatul Muhtaj dibaca saat ritual Isra’ Mi’raj (naiknya Nabi Muhammad ke langit untuk menerima perintah Sholat). Ada pula Kitab Qurtubi Kasyful Gaibiyyah yang isinya seputar hakikat kematian serta bagaimana manusia seharusnya mati. Kitab yang paling populer adalah Jati Swara karangan seorang wali bernama Syeikh Abdussamad dan bercerita tentang proses berkembangnya Islam di nusantara.

Seorang pembaca hikayat dituntut menguasai teknik nembang sebagai ciri khas tradisi ini. Ada beberapa istilah nada khas yang dipilih diantaranya dangdang (nada khas asal Jawa), Sinom (Bali), Pangkur, Budaya dan Kumambang (Lombok). Untuk menjamin suara bisa stabil hingga semalam suntuk, pembaca mengamalkan jampi-jampian. Sebagai bagian dari tradisi dan adat budaya, bekayat juga mengharuskan adanya kemalik (semacam ikat pinggang berbahan benang), beras kuning, air bunga, benang warna hitam dan putih yang ditaruh diatas wadah yang dinamakan rereke. Di atas mereka membaca terdapat kain hitam yang dibentangkan diantara kain putih. Maknanya, sebersih dan sesuci apapun manusia, pasti terdapat noda dan kesalahan dalam diri yang harus dibersihkan dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Sebagian dari prasyarat itu kini sudah banyak yang hilang. Dahulu, pembaca biasanya disuguhkan air nira yang memabukkan. Sekali lagi ini adalah faktor sejarah. Banyak dari unsur-unsur Hindhu terpaksa dipakai agar inti ajaran bekayat lebih bisa diterima oleh masyarakat pada zaman itu.

Tradisi bekayat hingga kini masih tetap lestari. Berbeda dengan tradisi-tradisi lain yang kian hilang karena tergerus zaman, bekayat tetap ada karena peran pembacanya. Dalam satu kampung bisa terdapat 4 hingga 5 pembaca yang masih aktif. Mereka terdorong oleh niat melestarikan tradisi leluhur meski tidak mendapatkan imbalan material yang cukup.(dh)

*diolah dari berbagai sumber