Bercengkrama Dengan Sejarah Di Mayura

Dipostkan pada : 2016-01-26    Oleh : Salman    Viewer : 338

KAMI memberi garansi, berwisata ke Taman Mayura, adalah pelancongan yang tak biasa. Ya, karena Anda akan dibawa pada bagaimana dulu Kota Mataram. Bagaimana dulu Pulau Lombok.

Taman di wilayah Lingkungan Pamotan, Cakranegara ini, berada di lokasi yang strategis. Berada di pusat kota. Berada di jalur akses jalan nasional. Hanya sepelemparan batu dari pusat bisnis Kota Mataram.

“Selamat datang di Taman Mayura. Selamat menikmati keindahan dan warisan sejarah yang ada di Pulau Lombok ini,” Sapa Iswandi salah seorang penjaga taman. Ramah dia menyambut kami.

Diajaknya kami berkeliling ke lima lokasi di taman ini. Yakni Bale Kambang, Bale Pelelenan, Bale Loci, Pura Kelepuk dan Pura Jagatnata. Kelima tempat itu adalah lokasi utama di dalam taman yang memang dulu berada di dalam kompleks istana raja.

Pertama kali mata akan tertuju pada bangunan lama yang masih berdiri tegak di atas kolam. Itulah yang di sebut dengan Bale Kambang.

Untuk mencapai tempat itu, kami menyeberangi kolam meniti jembatan yang panjangnya 18 meter. Sebelum mencapai jembatan itu, kami berjalan di celah pohon manggis yang membentuk seperti lorong. Macam para pengantin TNI/Polri yang melewati upacara pedang pora.

Di depan pintu masuk menuju jembatan, ada dua patung. Di mana, patung tersebut sebagai simbol pengamanan pada saat masuk ke wilayah Bale Kambang.

Corak bangunan kental dengan ornamen khas kerajaan Bali.

Atap bangunan yang terbuat dari pecahan pohon aren, mengundang kesejukan ketika berada di sana.

Bunga mawar yang ada di sekeliling Bale Kambang kian menghidupkan suasana. Harum semerbak. Ditambah lagi dengan angin yang datang dari semua sudut, membuat mata kami menjadi ingin terlelap tidur di sana.

Dulu, kata Iswandi, Bale Kambang digunakan sebagai tempat musyawarah dan berkumpul oleh raja. Di sanalah sejumlah keputusan penting diambil. Di sana pula raja menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi pada zaman itu.

Saat diberikan beberapa materi sejarahnya Bale Kambang, kami seperti diajak merasakan bagaimana kehidupan pada zaman itu.

“Selain berwisata di sini, kita bisa mendapatkan ilmu sejarah juga ternyata,” celetuk Rudi, salah seorang pengunjung asal Magelang, Jawa Timur, yang juga ada dalam rombongan wisatawan.

Setelah ke Bale Kambang, kami menuju Bale Pelelenan. Yang artinya, rumah kesejukan. Di sana, rumah tersebut tepat berhadapan di depan Bale Kambang.

Katanya, dulu Bale Pelelenan ini digunakan raja untuk duduk santai. Kebiasaan raja, setelah berkunjung ke Bale Kambang, Raja pasti akan beristirahat di bale ini.

Setelah itu, kami diantarkan menuju Pura Kelepuk. Pura ini terletak di sebelah timur Bale Pelelenan. Di tempat ini, kami beristirahat pada salah satu berugak yang ada di depan pura.

Sontak pandangan merujuk pada Bale Kambang yang ada di tengah kolam. Senja matahari mulai turun. Terlihat, semburat jingga di langit. Pantulan sinar mataharinya memberikan warna pada kolam yang luasnya 2,5 hektare. Hal itu memberikan aura damai jika kami berada di sini.

Dari keteragan Iswandi, pura tersebut digunakan sebagai tempat peribadatan pribadi raja. Sehinga, bentuknya terlihat khusus.

Di samping Bale Pelelenan, ada Bale Loci. Tempat ini adalah istana tempat tinggal raja. Istana itu kini sudah direhab dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Dulu pernah dijadikan kantor lurah Mayura. Tapi, setelah tempat ini menjadi destinasi wisata situs sejarah, rumah raja tak lagi dijadikan kantor.

Satu tempat lagi adalah Pura Jagatnata. Pura ini berada di sebelah Pura Kelepuk. Pura ini lebih besar. Karena memang menjadi tempat peribadatan bagi umum. Di sana rakyat dulu menggelar ritual dulu, dan bisa bertemu dengan raja.

Oh ya. Kendati merupakan tempat wisata kental sejarah. Taman Mayura bukan berarti tidak akrab dengan anak-anak. Bagi Anda yang memiliki buah hati. Taman Mayura juga adalah tempat yang pas untuk membuang penat.

Anak-anak tentu akan menggemari atraksi menaiki sampan bebek yang disediakan di sana. Biaya sekali naik Rp 10 ribu untuk berkeliling kolam seluas 2,5 hektare sepuasnya. Kami pun mencoba atraksi ini. Asyik.

Tak lupa, kami juga dijelaskan beberapa sejarah penting tentang kehidupan raja Anak Agung Anglurah Karang Asem.
Dahulunya, di Taman Mayura ini merupakan hutan yang lebat. Isinya ular berbisa dan binatang buas. Kemudian, raja mencoba mengusirnya. Namun, raja tidak berhasil.

Hingga, dia mengundang sahabatnya dari Pakistan untuk mengusir hewan buas tersebut. Hasilnya, binatang menakutkan itu berhasil enyah.

Kemudian, sahabat raja itu menyarankan raja memelihara burung Merak yang banyak, agar ular dan binatang buas tidak kembali lagi.

Selanjutnya, dia mencoba untuk membuat tempat saluran irigasi di wilayah pematangan sawah. Namun, pada saat itu, perairan di wilayah lingkungan raja masih terbatas.

Kemudian raja mengeruk di bagian tengah taman tersebut. Lalu muncullah mata air yang banyak. Dengan banyaknya mata air, akhirnya dia membuat kolam.

Sehingga, terbentuklah kolam di tengah taman. Di tengah kolam terdapat mata air yang diyakini tidak akan pernah surut selamanya.

Tempat ini dulunya adalah kelepug. Artinya tempat mata air. Namun pada tahun 1986 saat taman dipugar, diganti menjadi mayura, yang artinya burung merak.

Itulah pelesir sambil belajar ilmu sejarah kami. Selamat berpelesir. Silahkan saja, ke mana Anda ingin.

 

Sumber : http://www.lombokpost.net/2015/11/22/bercengkrama-darah-di-mayura/