Lebaran Topat Wujud Keluhuran Budaya Masyarakat Lombok

Dipostkan pada : 2017-07-03    Oleh : Salman    Viewer : 147

MATARAM-Perayaan Lebaran Topat kemarin (2/7)  berlangsung  semarak. Sejumlah tempat wisata, ramai dikunjungi para wisatawan. Terutama, spot wisata religi.

 

Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh, seperti biasa mengimbau masyarakat kota sebaiknya tetap merayakan Lebaran Topat di daerah sendiri. Tidak latah, ikut membanjiri jalan-jalan utama, lalu hanya menuju satu titik wisata. Sehingga berdampak pada kemacetan arus lalu lintas yang krodit. “Sebaiknya di dalam kota saja,” pinta Ahyar.

 

Sebab, jika berkaca dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kemacetan parah kerap terjadi di jalan-jalan utama. Seperti yang terlihat di jalan Saleh Sungkar, Ampenan hingga Batu Layar Senggigi. Konsentrasi dan tujuan wisata harus bisa terpecah.

 

Ini diharapkan dapat mengurangi kemudaratan yang bisa timbul akibat jalanan yang terlalu krodit. “Apalagi kita punya dua tempat ziarah religi, ziarah makam di Bintaro dan Loang Baloq,” terangnya.

 

Dua tempat wisata religi ini, juga tidak kalah dengan tempat wisata lain. Selain, didukung tempat wisata pantai yang tak kalah indah dan bersih. Ada pantai Bintaro, Ampenan, Pantai Loang Baloq, Pantai gading dan banyak spot wisata pantai lainnya.

 

Menilai soal budaya yang berkembang dalam perayaan Lebaran Topat, Ahyar yang juga tokoh agama di Mataram, melihat ada pesan positif yang sangat besar. “Seperti ziarah makam, tentu saya pandang ini baik. Karena ada nilai-nilai spiritual dan mengenang jasa para solihin, tokoh dan mubaligh besar Islam,” terangnya.

 

Pada akhirnya, berbagai kegiatan-kegiatan bernuansa Islami ini nantinya, akan mendorong umat untuk mempertebal keimanan dan ketakwaannya. “Apalagi, tradisi dan budaya di Lombok tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai Islami yang luhur,” sambungnya. Karena itu, ia mengajak umat muslim, menyemarakan perayaan Lebaran Topat. Untuk mempertahankan tradisi yang lahir dari keluhuran niat para penggagasnya dahulu.

 

Beberapa kegiatan luhur dalam perayaan Lebaran Topat antara lain, ziarah makam ke tokoh-tokoh siar agama Islam. Lalu ada acara Ngurisan dimana para orang tua membawa bayi-bayinya untuk dikuris atau dicukur rambutnya untuk pertama kali. Lalu tausiah agama untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada sang Maha Pencipta. 

 

“Jika dilaksanakan dengan cara baik dan benar, maka memiliki makna sunnah,” terangnya.

 

Momentum perayaan Lebaran Topat di makam Bintaro misalnya, memiliki semangat menapak tilasi para awliya yang datang dari berbagai penjuru negeri. Merekalah yang berjasa besar mengenalkan agama Islam bagi masyarakat Pulau Lombok. Baik melalui siar ucapan (ceramah) atau perilaku dalam bentuk budaya. 

 

“Kitalah yang harus memelihara, menjaga, dan melestarikan nilai-nilai budaya,” tandansnya. (zad/r5)

 

sumber : http://www.lombokpost.net/2017/07/02/lebaran-topat-wujud-keluhuran-budaya-masyarakat-lombok/